HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  GalleryGallery  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 sosok pemimpin yang kita rindukan

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
na_smileholic
Newbie
Newbie


Jumlah posting : 17 Age : 26
Lokasi : Bengkulu

PostSubject: sosok pemimpin yang kita rindukan    Wed Oct 20, 2010 1:01 pm

skg tanggal 20 oktober 2010...klo disingkat jadi 20 10 2010..
hari ini adalah tepat setahun masa kepimpinan SBY sang Presiden RI...tapi apakah rapor pak SBY menurut xan...??

wo punya note yang di ambil dari salah satu penulis...
cb dhe kita renungin sama2,,,ok?



"DUHAI, IZINKANLAH AKU MERINDUIMU

by Syaukani Al Karim on Saturday, 16 October 2010 at 17:30



[Kisah “cinta” antara Wasior dan San Jose]

Syaukani Al Karim



Hari itu, presiden datang ke Wasior, khususnya setelah dikecam banyak orang atas kelambatan empatinya. Ia berbaju safari, dan tampak agung di tengah-tengah rakyat yang menunggunya. Didampingi oleh sejumlah penasehat, orang dekat, serta pasukan pengamanan, Ia berdiri di depan rakyat dengan kegagahan seorang presiden. Di layar televisi, kita melihat kesibukan yang luar biasa di lokasi bencana. Tapi sepertinya bukan kesibukan penyelamatan korban, tapi kesibukan menjaga sang presiden dan isteri. Ketika Ia berjalan, para pembantunya sibuk membentuk barikade, untuk membuka jalan agar sang presiden tidak terhambat oleh sesak massa yang mulai merapat, yang mungkin hanya sekedar ingin melihat sang presiden dari dekat, atau sekedar berharap berjabat tangan. Sang presiden terus berjalan, dan bibirnya tersenyum, dengan senyum yang tertata, tipis, sama tipisnya sejak bertahun-tahun lalu.



Seseorang, mungkin anggota paspampres tampak membersihkan punggung sang presiden dengan tissue, atau mungkin sapu tangan. Sepertinya baju sang presiden terkena air atau percikan lumpur. Sang presiden melambaikan tangan kepada semua orang, dan kemudian di depan sebuah mikropon, Ia menyatakan sangat prihatin dengan bencana itu. Didahului oleh “orang dekatnya”, orang-orang kemudian bertepuk tangan. Lalu selesai.



Di sebuah negeri yang lain yang bernama Chile, Sebastian Pinera, juga seorang presiden, mengunjungi sebuah lokasi tambang tempat sebuah musibah terjadi. Ia tampak datang dengan cara seorang buruh, berbaju buruh, lengkap dengan topinya. Sang Isteri, Cecilia Morel Montes, juga terlihat di lokasi. Berbalut baju putih, dengan helm buruh berwarna sama, Dia berbaur dengan masyarakat dan sejumlah ahli yang sedang melakukan penyelamatan terhadap 33 pekerja tambang, yang sudah 69 hari terperangkap di perut bumi sedalam 700 meter.



Setiap kali seseorang diselamatkan, sang presiden memeluknya dengan kehangatan pelukan seorang buruh, juga isterinya melakukan hal yang sama, begitulah seterusnya. Dan ketika pekerja terakhir, yang bernama Luis Urzua, diselamatkan, sang presiden tidak hanya memeluk, juga melonjak gembira, dengan kecintaan yang tak palsu, dan secara spontan memimpin masyarakat yang hadir menyanyikan lagu kebangsaan.



Di layar televisi, di lokasi musibah San Jose, tak terlihat ada kesibukan protokoler. Juga tak terlihat “sekutu” atau pengawal yang lalu-lalang mengamankan keberadaannya. Juga tak terlihat seseorang mengelap muka presiden yang terkena debu, yang kebetulan sangat banyak di situ. Setelah semua selamat, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan sampanye dibuka, mereka berangkulan. Lalu selesai. Esoknya, mulai dari Paus, Obama, Ahmadinejad dan sejumlah pemimpin dunia berpidato, memuji sang presiden. Rakyat tumpah turun ke jalan, meneriakkan kata cinta kepada sang pemimpin.



Di sebuah negara yang lain lagi, Bolivia, seorang lelaki dikabarkan bergegas menuju pesawat terbang yang akan membawanya ke San Jose, Chile. Lelaki keturunan Indian Aymara itu bernama Juan Evo Morales Ayma, juga seorang presiden. Ia ingin sampai di Chile hari itu juga, setelah mendapat kabar bahwa salah seorang dari 33 penambang yang terperangkap dan kemudian selamat itu adalah warganya. Ia ingin bertemu secara langsung, mungkin sekedar untuk memeluk dan memberikan warganya sebuah empati bergaya Bolivia. Sebenarnya, Ia bisa saja menyuruh sang duta besar, atau menteri, untuk mewakili dirinya, tapi Ia tak melakukan itu, karena Ia sadar persis, bahwa yang diperlukan pasca sebuah musibah adalah inspirasi, dan inspirasi itu menggumpal dalam simbol dirinya sebagai seorang pemimpin. Ia datang, dan ia tidak hanya berhasil menenangkan hati korban, tapi juga memenangkan hati banyak orang.



Kita kagum kepada Sebastian Pinera, bukan karena Ia berhasil menyelamatkan 33 nyawa, sebab mungkin ada presiden lain yang menyelamatkan lebih banyak dari itu. Tapi kita kagum, karena Pinera, meletakkan dirinya secara presisi, sebagai bagian dari sebuah musibah. Ia tidak peduli berapapun biaya yang dikeluarkan, karena Ia tahu, bahwa nyawa manusia tidak dapat ditakar dengan ukuran nominal. Dia bahkan merasa perlu untuk berada di sana sepanjang proses penyelamatan, karena tahu bahwa penyelamatan bukan hanya soal ketersediaan dana dan alat, tapi juga memerlukan spirit, dan Ia adalah satu bagian dari spirit yang dibutuhkan.



Pinera secara tepat, mengajarkan kita, bagaimana menjadi seorang pemimpin. Ia memberikan sebuah teladan, bahwa tak berjarak dengan rakyat, berempati kepada rakyat, adalah sebuah jalan kecintaan, dan di ujung jalan kecintaan itu akan ada rindu. Bagi Pinera, seperti yang diucapkannya, bahwa tindakannya hanyalah sebuah perjuangan kehidupan melawan kematian, tapi dalam pandangan saya, Pinera, dengan tindakannya, telah melaksanakan secara tepat, satu bagian dari perintah Taurat, Injil, dan Al Qur’an, bahwa menyelamatkan seorang manusia bagaikan menyelamatkan seisi dunia.



Inilah yang berbeda dengan Indonesia. Ketika bencana Wasior terjadi, bukannya segera mengerahkan kekuatan menyelamatkan “kehidupan” dan “kematian” yang serentak terjadi di sana, para pejabat dan berbagai kalangan malah sibuk berdebat tentang muasal bencana. Unsur LSM lingkungan mengatakan hal itu disebabkan oleh pembalakan liar [illegal logging], tapi dengan segera dibantah oleh sejumlah pejabat, baik menko kesra, menteri kehutanan, bahkan presiden. Ada yang menyalahkan hujan. Ada yang menyalahkan lokasi kota. Ada pula yang menyalahkan tata ruang, dan macam-macam lagi. Bukankah seharusnya, persoalan “sebab” sebaiknya dibicarakan setelah semua tindakan penyelamatan dilakukan? Tidakkah lebih elok, jika semua unsur disatupadukan untuk membantu, ketimbang bertengkar karena membicarakan “sebab”?



Lebih jauh, kita miris dan kemudian tertegun mendengar pandangan seorang staff kepresidenan. “Dimensi kemanusiaan yang terjadi di Chili lebih menonjol dibandingkan Wasior,” kata Daniel Sparingga, sang staff khusus presiden bidang komunikasi politik, seperti yang dikutip oleh Detiknews.



Duhai, apakah ukuran sebuah duka? Apakah ukuran tinggi rendahnya sebuah “dimensi kemanusiaan”? Benarkah bahwa mereka yang menderita di Wasior itu, kelas kedukaan dan dimensi kemanusiaannya lebih rendah dibanding kasus Chili sehingga empati yang terlambat dianggap pantas? Rendahkah dimensi kemanusiaan dari seratusan nyawa yang terbaring dan ribuan mata yang menangis karena kehilangan tempat tingal di Wasior itu? Tidakkah pernyataan semacam itu membuat para korban menjadi seperti tertimpa musibah dua kali? Tidakkah pernyataan itu, membuat mereka yang menangis kian mengeluarkan airmata pedih? Duhai, jiwa seperti apakah yang mengatakan pandangan semacam itu?



Kita merindui pemimpin, yang mungkin bukan seorang Sebastian Pinera, tapi seorang Indonesia yang meletakkan dirinya sebagai seorang “pemimpin”, dan bukan sekedar seorang presiden. Seorang pemimpin, yang memandang rakyat sebagai jantung hati, yang dengan rakyat “tak berjarak” dalam serentang jarak. Kita memerlukan seorang pemimpin, yang ketika rakyat menangis, ia datang sebagai airmata, ketika rakyat luka Ia datang menjadi darahnya, ketika rakyat bermimpi maka Ia berjuang mewujudkannya, dan ketika rakyat bergembira, maka Ia datang menggenapinya. Kita ingin memiliki pemimpin, yang rasa cinta kita memiliki alasan, yang rindu kita menemukan jalan. Kita masih berharap.



Tapi sudahlah, yang jelas antara Wasior dan San Jose, kita sudah dapat belajar tentang kualitas sebuah cinta. Pada akhirnya kita dapat menemukan perbedaan antara pemimpin dengan seseorang yang hanya “seorang presiden”. Sebastian Pinera adalah seorang pemimpin, dan karenanya ia mampu menjadi bagian dari rakyat, karena ia sadar akan integralitas seorang pemimpin dengan yang dipimpin. Pinera, menunjukkan kepemimpinannya dengan berjuang untuk selalu singgah ke hati rakyat, singgah ke alamat sejati tempat asal Ia datang dan kembali. Sementara presiden kita hanyalah seorang presiden, dan karenanya Ia hanya mampu menunjukkan diri sebagai bagian dari kekuasaan.



Kita terus berharap, kelak kita “punya peluang” untuk mencintainya, dan Ia pula “memberi peluang” kepada kita untuk merinduinya sesuatu yang hari ini masih tertutup dan tak mungkin.
[/i][/i]
[/color][b]
Back to top Go down
View user profile
A+
Admin
Admin


Jumlah posting : 448 Age : 26
Lokasi : Bengkulu

PostSubject: Re: sosok pemimpin yang kita rindukan    Wed Oct 20, 2010 4:40 pm

Ini Emang Warna Hitam Ya ?, :bingung1:, Tapi RP + 1

_________________
Berapa Nilai Dari Kasih Dan Cinta ? , Kasih Dan Cinta Hanya Lah Nafsu Belaka

Berapa Nilai Dari Duka Dan Benci ? , Duka Dan Benci Hanya Lah Keluhan Manusia
Back to top Go down
View user profile http://ariakbarsyah.weebly.com
na_smileholic
Newbie
Newbie


Jumlah posting : 17 Age : 26
Lokasi : Bengkulu

PostSubject: Re: sosok pemimpin yang kita rindukan    Wed Oct 20, 2010 9:58 pm

sengaja pak mimin,,,hehehe

cuz ga keliatan...sxan nyoba2 juga,,hehehe

thank u pak min
Back to top Go down
View user profile
Akhnukh
Moderator
Moderator


Jumlah posting : 167 Age : 26
Lokasi : bengkulu

PostSubject: Re: sosok pemimpin yang kita rindukan    Wed Oct 20, 2010 11:04 pm

panjang niaaaaan...!!
pegal mato amb baco ny... :puyeng2:
Back to top Go down
View user profile
na_smileholic
Newbie
Newbie


Jumlah posting : 17 Age : 26
Lokasi : Bengkulu

PostSubject: Re: sosok pemimpin yang kita rindukan    Wed Oct 20, 2010 11:49 pm

cb dhe bca dulu dijamin ketagihan rid,,n ini mank tipe jalan pikiran lu rid...hehhe
Back to top Go down
View user profile
A+
Admin
Admin


Jumlah posting : 448 Age : 26
Lokasi : Bengkulu

PostSubject: Re: sosok pemimpin yang kita rindukan    Thu Oct 21, 2010 6:17 am

Ternyata Di Sengaja Ya

_________________
Berapa Nilai Dari Kasih Dan Cinta ? , Kasih Dan Cinta Hanya Lah Nafsu Belaka

Berapa Nilai Dari Duka Dan Benci ? , Duka Dan Benci Hanya Lah Keluhan Manusia
Back to top Go down
View user profile http://ariakbarsyah.weebly.com
Sponsored content




PostSubject: Re: sosok pemimpin yang kita rindukan    Today at 8:56 am

Back to top Go down
 
sosok pemimpin yang kita rindukan
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» apa sih efek yang kita dapet klo upgrade diskbrake ma kaliper??
» 20 Alasan Kita Cinta Indonesia
» kata-kata bijak, semoga bermanfaat
» Seni Pahat Semangka Yang Menakjubkan
» ada yang mau kerjasama^^

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
 :: Warung Kopi HIMATIF UNIB :: Ngomong Bebas-
Jump to: